Header Ads


Rupiah Anjlok: Alarm yang Tak Biasa

Oleh: Ema Fitriana Madi*)

 

IndonesiaNeo, OPINI - Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi perhatian. Pada gambar di atas terlihat angka yang mencengangkan: 1 dolar AS setara dengan Rp18.001. Bagi sebagian orang, angka ini mungkin hanya statistik ekonomi. Namun bagi jutaan rakyat, ini adalah pertanda naiknya harga kebutuhan hidup, semakin beratnya biaya pendidikan, meningkatnya beban usaha, dan menipisnya daya beli keluarga.

Fenomena melemahnya rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Ia adalah cermin rapuhnya sistem ekonomi yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Ketika dolar menguat, harga barang impor naik. Ketika harga impor naik, biaya produksi meningkat. Ketika biaya produksi meningkat, harga barang kebutuhan sehari-hari ikut melonjak. Pada akhirnya, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Di pasar, para pedagang mengeluh harga bahan baku terus merangkak naik. Di rumah-rumah, para ibu harus memutar otak agar uang belanja cukup hingga akhir bulan. Para ayah bekerja lebih keras, tetapi penghasilan terasa semakin kecil nilainya. Sementara generasi muda menghadapi masa depan yang semakin mahal: pendidikan mahal, rumah mahal, lapangan kerja semakin kompetitif, dan mimpi-mimpi besar yang terasa semakin jauh untuk digapai.

Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa kondisi seperti ini terus berulang?

Akar masalahnya bukan semata-mata karena faktor eksternal atau gejolak pasar global. Persoalan yang lebih dalam adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan mata uang tidak lagi memiliki sandaran nilai yang kuat. Sejak dunia meninggalkan standar emas dan perak, nilai uang banyak bergantung pada kepercayaan pasar, kebijakan bank sentral, serta kekuatan politik negara-negara besar.

Akibatnya, negara-negara berkembang seperti Indonesia sangat rentan terhadap dominasi dolar. Ketika dolar bergerak, perekonomian nasional ikut terguncang. Ketika investor asing menarik modalnya, nilai tukar melemah. Ketika utang luar negeri membengkak, rakyat yang akhirnya harus menanggung konsekuensinya.

Inilah wajah kapitalisme global: ekonomi suatu bangsa dapat dipengaruhi oleh keputusan yang dibuat ribuan kilometer jauhnya. Kedaulatan ekonomi menjadi rapuh karena bergantung pada sistem yang tidak dikendalikan sendiri.

Ironisnya, mata uang yang hari ini menjadi acuan dunia sebenarnya menyimpan banyak kelemahan mendasar. Dolar AS adalah uang kertas (fiat money) yang tidak lagi ditopang oleh emas atau perak sejak Amerika Serikat menghentikan standar emas pada tahun 1971. Artinya, nilai dolar tidak berasal dari zat yang dikandungnya, melainkan dari kepercayaan pasar dan kekuatan politik-ekonomi negara penerbitnya. Ketika pemerintah mencetak uang dalam jumlah besar, nilai uang dapat tergerus tanpa disadari masyarakat. Inflasi yang terjadi sesungguhnya adalah bentuk penyusutan daya beli yang diam-diam mengurangi nilai kekayaan rakyat.

Lebih jauh lagi, dominasi dolar membuat banyak negara harus tunduk pada mekanisme ekonomi global yang tidak selalu berpihak kepada mereka. Ketika suku bunga di Amerika naik, modal asing keluar dari negara berkembang. Ketika terjadi krisis di negara adidaya, efeknya menjalar ke berbagai penjuru dunia. Akibatnya, rakyat biasa yang tidak pernah terlibat dalam pengambilan kebijakan global justru menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Sebaliknya, Islam mengenal sistem moneter yang bertumpu pada dinar dan dirham, yaitu mata uang berbasis emas dan perak yang memiliki nilai intrinsik. Emas tetap bernilai meskipun pemerintahan berganti, rezim runtuh, atau krisis melanda. Selama lebih dari seribu tahun peradaban Islam, dinar dan dirham menjadi alat transaksi yang relatif stabil dan diterima luas di berbagai wilayah. Karena jumlah emas dan perak terbatas secara alamiah, tidak ada pihak yang bisa mencetaknya sesuka hati sebagaimana uang kertas saat ini. Inilah yang membuat inflasi dalam sistem berbasis emas dan perak jauh lebih terkendali.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah menjadikan emas dan perak sebagai ukuran nilai bagi berbagai barang dan jasa. Oleh karena itu, keduanya memiliki karakteristik yang lebih mampu menjaga keadilan dalam transaksi. Sejarah juga menunjukkan bagaimana daya beli emas mampu bertahan selama berabad-abad. Nilai satu dinar pada masa Rasulullah ﷺ memiliki kemampuan membeli kebutuhan yang relatif sebanding dengan nilai emas saat ini. Ini menunjukkan bahwa emas bukan sekadar alat tukar, tetapi juga penyimpan nilai yang kuat.

Karena itu, ketika rupiah terus melemah terhadap dolar, persoalannya bukan hanya tentang kurs yang naik. Ini adalah bukti rapuhnya sistem moneter global yang menjadikan mata uang tanpa nilai intrinsik sebagai penentu kehidupan miliaran manusia. Sementara Islam menawarkan alternatif yang lebih kokoh, yaitu sistem keuangan yang bertumpu pada aset riil, bebas dari manipulasi pencetakan uang berlebihan, dan berorientasi pada keadilan bagi seluruh masyarakat.

Lebih jauh lagi, kapitalisme lahir dari pemikiran sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Dalam sistem ini, ukuran keberhasilan sering kali hanya pertumbuhan ekonomi, investasi, dan keuntungan materi. Manusia dinilai dari produktivitas dan daya belinya, bukan dari kemuliaan akhlak atau kesejahteraan hakiki. 

Tidak heran jika materialisme semakin mengakar. Orang bekerja lebih keras bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk mengejar standar hidup yang terus dinaikkan oleh budaya konsumtif. Akibatnya, stres meningkat, hubungan keluarga merenggang, angka perceraian bertambah, dan kebahagiaan semakin sulit ditemukan meski pendapatan bertambah.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124).

Kehidupan yang sempit tidak selalu berarti kekurangan harta. Ia juga bisa berupa hilangnya keberkahan, ketidaktenangan, dan terus-menerus dihantui ketidakpastian ekonomi.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

"Hampir saja kefakiran itu menyebabkan kekufuran." (HR. Al-Baihaqi).

Hadis ini menunjukkan bahwa masalah ekonomi bukan perkara ringan. Ketika kebutuhan dasar sulit dipenuhi, stabilitas keluarga dan masyarakat pun ikut terancam. Anak-anak tumbuh dalam tekanan ekonomi, pendidikan terganggu, dan generasi mendatang berisiko mewarisi masalah yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Islam memiliki pandangan yang berbeda dalam mengelola ekonomi. Islam tidak membangun sistem keuangan di atas spekulasi, riba, dan dominasi mata uang asing. Dalam sistem Khilafah, negara bertanggung jawab penuh menjaga kestabilan mata uang, mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, serta memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi.

Allah SWT berfirman:

"Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr: 7).

Ayat ini menunjukkan bahwa distribusi kekayaan merupakan perhatian besar dalam Islam. Negara tidak boleh membiarkan kekayaan hanya terkonsentrasi pada segelintir elite, sementara mayoritas rakyat berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam praktiknya, Khilafah menerapkan sistem ekonomi yang menjadikan sumber daya alam strategis sebagai milik umum yang hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Pendidikan dan kesehatan dijamin negara. Mata uang berbasis emas dan perak menjaga kestabilan nilai tukar. Riba dihapuskan sehingga sektor keuangan tidak menjadi alat penghisapan ekonomi. Negara juga aktif membuka lapangan kerja dan memastikan kebutuhan pokok masyarakat dapat diakses dengan mudah.

Sejarah mencatat bagaimana pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, tingkat kesejahteraan masyarakat begitu tinggi hingga petugas zakat kesulitan menemukan orang yang berhak menerima zakat. Ini bukan sekadar kisah romantis masa lalu, melainkan bukti bahwa penerapan syariat Islam secara menyeluruh pernah melahirkan sistem ekonomi yang menyejahterakan.

Karena itu, ketika melihat angka dolar menembus Rp18.000, kita tidak cukup hanya mengeluh atau menyalahkan keadaan. Angka itu seharusnya menjadi alarm yang mengingatkan bahwa ada persoalan sistemik yang perlu dikaji secara jujur dan mendalam. Krisis demi krisis yang terus berulang menunjukkan bahwa solusi tambal sulam tidak pernah benar-benar menyelesaikan akar masalah.

Sudah saatnya umat Islam kembali menimbang kehidupan dengan timbangan wahyu, bukan sekadar logika pasar. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kesejahteraan sejati tidak lahir dari mengejar angka-angka ekonomi semata, tetapi dari penerapan aturan Allah yang menghadirkan keadilan dan keberkahan. Jika hari ini rupiah melemah dan rakyat semakin terhimpit, maka pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan hanya "mengapa ini terjadi?", tetapi juga "sampai kapan kita akan bertahan dengan sistem yang terus melahirkan masalah yang sama?"

Angka Rp18.000 per dolar adalah gambaran tentang keluarga yang harus mengurangi kebutuhan, pedagang yang kehilangan keuntungan, anak-anak yang terancam masa depannya, dan bangsa yang terus bergantung pada kekuatan ekonomi asing. Karena itu, perubahan tidak boleh berhenti pada keluhan. Perubahan harus dimulai dari kesadaran, dilanjutkan dengan pemahaman, dan diwujudkan dalam perjuangan untuk menghadirkan sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah. Sebab hanya dengan kembali kepada aturan-Nya, umat ini dapat keluar dari lingkaran krisis yang tak berkesudahan dan kembali merasakan keadilan, kemakmuran, serta keberkahan yang hakiki.

Wallahu alam biashshawab.[]


*) Muslimah Pemerhati Sosial

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.