Header Ads


Dari Markaz Ilmu Jadi Ladang Luka: Ironi Pesantren di Era Sekular

Oleh: Suaibah S.Pd.I.*) 


IndonesiaNeo, OPINI - Dulu santri pulang bawa ilmu dan adab. Sekarang banyak yang pulang bawa luka dan trauma. Pesantren itu dahulu disebut markazul ilmi dan ma’had tarbawi. Tempat anak bangsa ditempa bukan cuma otak, tapi juga hati. Tapi hari ini sebutan itu terasa hambar. Tragedi di Mantang, Batukliang Lombok Tengah jadi tamparan paling telak: satu santri wafat, dua lainnya luka bakar parah diduga akibat bullying senior.

Markaz ilmu berubah jadi ladang luka. Ironi. Di tengah wacana bonus demografi, rumah yang harusnya paling aman bagi generasi justru jadi tempat petaka. Data FSGI 2025 mencatat 60 kasus kekerasan pendidikan dengan 358 korban. Lonjakan tajam dari 15 kasus di 2023.

Ini bukan sekadar berita kriminal. Ini cermin retaknya sistem pendidikan kita di era sekular yang gagal melahirkan raa'in wa junnah, pemimpin yang menjaga dan perisai yang melindungi.

Sebagai alumni santri, saya merasa sedih sekaligus miris melihat kondisi pondok pesantren saat ini. Berbagai pemberitaan memenuhi media sosial, tapi sungguh disayangkan bukan berita tentang prestasi, melainkan kebobrokan moral yang memprihatinkan di lingkungan pondok.

Bagi dunia pesantren, pendidikan berbasis boarding 24 jam punya tantangan yang tidak mudah. Membersamai para santri nonstop tentu beban berat.

Beginilah kondisi ketika kita diatur dengan aturan buatan manusia, yakni sistem sekular-kapitalis. Sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga menjadikan individu tak lagi takut melakukan dosa. Termasuk kasus bullying, meskipun itu terjadi di dunia pesantren, tempat orang menimba ilmu agama.

Sistem pendidikan sekular yang diterapkan menjadikan pendidikan hanya bertumpu pada pencapaian akademik semata. Lahirlah individu yang cerdas tapi gersang imannya. Akibatnya, generasi tumbuh menjadi sosok anarkis, penindas yang lemah, senioritas salah arah, dan maraknya kekerasan menjadi keniscayaan.

Negara yang seharusnya menjadi pelindung bagi rakyat justru abai dan gagal menjaga generasinya. Tontonan berbau kekerasan harusnya disensor, karena tidak sedikit pelaku kejahatan terinspirasi dari yang ditontonnya.

Sanksi bagi pelaku pun tidak memberikan efek jera, sehingga kasus serupa terus berulang, bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi ketika pelaku kejahatan di bawah umur, maka ia terbebas dari sanksi. Jadi menggantungkan harapan pada sistem saat ini untuk memberantas bullying, impossible to happen.

Islam sebagai agama sekaligus pandangan hidup mampu menyelesaikan setiap problematika yang menimpa umat, termasuk kasus bullying. Dalam Islam, bully termasuk dosa besar. Orang yang memiliki keimanan kokoh akan takut berbuat dosa sekecil apa pun, karena sadar semua perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Keimanan seperti inilah yang menjaga individu dari berbuat kejahatan.

Pendidikan berbasis aqidah Islam mampu melahirkan generasi cerdas secara intelektual dan spiritual. Ini bisa dilihat dari sejarah para ilmuwan Muslim terdahulu seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Jabar, Al-Khawarizmi, dan masih banyak lainnya. Semua lahir dari penerapan sistem pendidikan Islam oleh negara Islam, yakni Khilafah.

Negara Islam yang berfungsi sebagai raa'in wa junnah bagi umat akan menjamin setiap lembaga pendidikan bebas dari segala tindak kekerasan. Suasana keimanan selalu dijaga, antar senior-junior senantiasa amar makruf nahi mungkar. Sehingga lahirlah senioritas yang positif.

Selain itu, negara akan menerapkan sanksi uqubat bagi pelaku kekerasan. Ini akan memutus mata rantai tindak kekerasan atau bullying di lingkup pendidikan. Inilah jaminan sistem Islam untuk melindungi rakyat dari segala tindak kejahatan. Lantas, masihkah kita berharap pada sistem sekular saat ini?

Wallahu a'lam bish-shawab.[]


*) Pemerhati Masalah Generasi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.