Header Ads


Terjepit Ekonomi, Tersesat Arah: Potret Gen Z Hari Ini

Oleh: Firda Yulianti*) 


IndonesiaNeo, OPINI - Berbicara Gen Z berarti berbicara terkait generasi muda, Gen Z saat ini sedang terhimpit oleh kenyataan hidup. Bagaimana tidak, lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial, mereka juga menghadapi krisis global yang ditandai dengan ketidakpastian karir hingga pengangguran massal. 

Akibatnya Gen Z mulai kehilangan jati diri bahkan sangat rentan mengalami kecemasan dan gangguan mental. Ini nampak pada hasil Survei Nasional Kesehatan Mental Remaja Indonesia (I-NAMHS) tahun 2022 yang mencatat 34,8% atau 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental dan 5,5% di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental (oneindonesia.id). 

Gen Z memang kerap dilabeli sebagai generasi strawberry, yaitu mudah rapuh dan tidak tangguh, tetapi mereka juga punya potensi, tentunya sebagaimana anak muda yang berada di masa-masa kuat ketika dewasa. Lantas, apa yang menyebabkan atau faktor apa yang mempengaruhi kehidupan Gen Z hari ini? Ditelisik dari kompas.id. Sejumlah faktor pemicunya beragam, mulai dari masa pubertas, perubahan emosional, pengaruh media sosial, tekanan sosial, lingkungan keluarga, pertemanan, serta sistem pendidikan, yang juga menjadi sebab gangguan mental generasi saat ini. 


Realitas Ekonomi: Tekanan di Tengah Ketidakpastian

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir 10 juta penduduk usia muda (15 – 24 tahun) masuk dalam kategori Not in Employment, Education, or Training (NEET). Tingginya angka ini dipicu oleh ketidaksesuaian antara kualifikasi lulusan dan kebutuhan industri serta minimnya lapangan kerja (Kompasiana.com). Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang jauh lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya. Kesulitan ekonomi Gen Z bukan sekedar nasib buruk individu, melainkan hasil dari cara kerja sistem ekonomi negara saat ini. 

Sistem hari ini menggunakan sistem ekonomi kapitalisme yang hanya berfokus pada akumulasi modal, efisiensi, dan peningkatan keuntungan bagi para pemilik modal. Simpelnya, lo punya modal, lo punya kuasa. Hal ini berdampak pada Gen Z, yaitu saat ini harga properti dan biaya pendidikan melonjak tinggi, bahkan layanan kesehatan pun tidak lagi murah. Karena semua itu tidak lagi dipandang sebagai hak publik, melainkan sebagai alat untuk mencari keuntungan bagi para pemilik modal. 

Di tengah tekanan ekonomi pula, alokasi belanja Gen Z yang katanya untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru meningkat karena dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekedar kemewahan. Namun, fenomena tersebut pada realitasnya hanya sekadar FOMO, dan ini berdampak pada keuangan. Melihat dari hasil studi akademis mengenai perilaku konsumen muda di Indonesia menunjukkan bahwa FOMO dimedia sosial berkontribusi signifikan (hingga 48,3%) terhadap keputusan belanja impulsif dan penurunan tingkat kesehatan finansial Gen Z. Tak heran media sosial saat ini memang menjadi ajang pamer kekayaan atau flexing.


Krisis Tujuan Hidup Gen Z

Gen Z dituntut cerdas secara finansial, memiliki personal brand, dan tetap menjaga kesehatan mental. Beban ekspektasi ini justru melumpuhkan fokus mereka dalam menemukan makna hidup yang sejati. Bahkan, yang terjadi saat ini adalah himpitan ekonomi dan jebakan hedonisme, yang telah menghilangkan kompas jalur hidup yang diinginkan para Gen Z yaitu sekolah, lulus dari sekolah dapat kerja tetap lalu menikah dan beli rumah. 

Dibalik itu semua, ada krisis yang lebih dalam yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Ini nampak sebagai pergeseran standar kebahagiaan, yaitu menganggap kebahagiaan diukur dari materi sesaat dan validasi sosial, yang mengarahkan mereka untuk sukses semata-mata demi pencapaian finansial dan gaya hidup (lifestyle). Sehingga mengaburkan pemahaman tentang hakikat keberadaan manusia di bumi.

Dalam pandangan Islam, tujuan hidup seorang muslim di dunia adalah beribadah kepada Allah dan meraih ridho-Nya. Sehingga kebahagiaan bukanlah diukur dari kenikmatan materi sesaat, apalagi gaya hidup, melainkan hanya mengharap ridho dari Allah saja. Selama Allah ridho atas segala perbuatan yang kita lakukan dan pencapaian yang kita dapatkan, maka itulah makna hidup yang sejati. 


Hakikat Hidup: Menjadikan Allah sebagai Orientasi Hidup 

Islam membagun paradigma yang benar tentang hakikat hidup untuk mengatasi krisis tujuan hidup dan tekanan mental yang dialami generasi muda, khususnya Gen Z. Dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, Allah SWT berfirman: 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” 

Maksud ibadah dalam ayat tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ritual seperti sholat dan puasa, tetapi mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang diniatkan untuk mencari ridho Allah, termasuk saat menuntut ilmu, bekerja, berkarya, hingga mengelola keuangan. 

Ketika orientasi hidup berbubah dari materi menjadi ridho Allah, maka ukuran “sukses” tidak lagi ditentukan oleh seberapa m gaya hidup seseorang atau berapa banyak followers di media sosial, melainkan seberapa besar ketaatan dan kemanfaatan dirinya bagi sesama. 

Kemudian, Gen Z harus menanamkan keyakinan bahwa rezeki telah diatur oleh Allah, dunia adalah tempat ujian, dan setiap kesulitan memiliki jalan keluar. Itulah yang akan mengokohkan akidah. Generasi yang akidahnya kokoh tidak akan menggantungkan kebahagiaannya pada pengakuan manusia atau gaya hidup konsumtif, sehingga Gen Z akan terhindar dari jebakan hedonisme sesaat. Generasi yang memahami tujuan hidupnya tidak akan terjebak dalam lingkaran “kerja, cari uang, lalu habis untuk konsumsi semata”, tetapi mereka akan memiliki kesadaran akan peran sebagai agen perbaikan (al-muslih) .

Generasi muda memiliki potensi, jika mereka mengemban mabda Islam. Sejarah membuktikan bahwa karakter generasi yang terbentuk selama masa kejayaan Islam adalah generasi yang kuat secara mental, berkeperibadian Islam, cerdas dalam berbagai bidang keilmuan, bahkan menjadi pemimpin peradaban yang tangguh. 

Dengan demikian, generasi muda hari ini harus meyadari bahwa mengemban mabda islam dan peduli terhadap kondisi umat adalah peran mereka sebagai agen perubahan dan perbaikan. Kemudian, membangun kesadaran dan pemahaman Gen Z bahwa solusi hakiki berbagai persoalan yang mereka hadapi saat ini hanya bisa dicapai melalui penerapan Islam Kaffah. Wallahu a'lam.[]


*) Pegiat Literasi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.