Mengejar Validasi, Kehilangan Arah: Pergulatan Gen Z di Tengah Budaya Hedonis
Oleh: Khadijah, S. Si*)
IndonesiaNeo, OPINI - Generasi Z atau generasi yang tumbuh sebagai digital native hidup di tengah dunia yang bergerak begitu cepat. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi digital serta globalisasi memberikan kemudahan dalam adaptasi digital, ekspresi diri dan efisiensi berbasis teknologi.
Informasi dapat diakses oleh siapa dan di mana saja serta membuka banyak peluang untuk hidup dan berusaha serta mampu mrmbangun jaringan global melalui media sosial.
Namun, di balik kemudahan tersebut muncul fakta bahwa lebih dari 48% atau sekitar 36,18 juta jiwa Gen Z tidak merasa aman secara finansial. Dampaknya, perubahan gaya hidup dan pergeseran prioritas hidup serta tingginya beban ekonomi harus ditanggung oleh Gen Z. Jangankan membangun rumah tangga, mengamankan aset properti pun terasa kian utopis bagi gen Z.Namun alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.
Persoalannya tidaklah sekadar tentang Gen Z yang menyukai kemajuan atau menikmati hasil kerja kerasnya.
Namun yang perlu dipertanyakan ialah ketika kepemilikan materi atau uang dan pengakuan manusia berubah menjadi tujuan utama dari kehidupan. Saat jumlah pengikut, komentar, penampilan, atau barang yang dimiliki menentukan nilai diri seseorang, maka perlahan gen Z dapat kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada sekadar apa yang tampak di layar.
Di sisi lain, memunculkan persoalan yang tidak selalu nampak di permukaan yakni tekanan untuk mengikuti tren yang terus berubah, dorongan untuk tampil sempurna serta adanya kebingungan dalam menentukan arah dan tujuan hidup mereka.
Kesuksesan diukur melalui kendaraan, pakaian bermerek, liburan, kuliner, dan berbagai pencapaian lain. Tanpa disadari, ukuran kebahagiaan pun bergeser. Seseorang merasa tertinggal hanya karena tidak mampu memiliki apa yang dimiliki orang lain. Dari sinilah budaya membandingkan diri dan mengejar validasi dapat tumbuh. Alhasil, kebahagiaan dinilai dengan banyaknya kenikmatan materi yang diperoleh, walaupun jauh dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.
Maka ketika tekanan ekonomi yang makin kompleks berhadapan dengan gaya hidup sekuler-liberal yang kerap menawarkan kesenangan dan konsumsi sebagai jalan keluar dari kejenuhan. Istilah seperti self-reward dan healing sering dipahami sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup, yang pada akhirnya dapat mendorong perilaku konsumtif dan hedonis.
Di sisi lain, media sosial terus menghadirkan tren dan gaya hidup yang silih berganti. Paparan tersebut dapat memunculkan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang dilakukan atau dimiliki orang lain. Tanpa disadari, keinginan untuk mengikuti tren dapat mendorong belanja impulsif dan membuat seseorang membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk diterima dan tidak merasa tertinggal.
Inilah cengkeraman sistem kapitalisme yang melahirkan sekulerisme saat ini. Sistem ini sejatinya menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit. Negara hanya diposisikan berperan sebagai regulator dan penjaga mekanisme pasar sementara kepemilikan individu dan kebebasan ekonomi mendapat ruang yang luas.
Hal yang bertolak belakang dengan negara dalam sistem Islam. Negara dalam sistem Islam memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar seluruh masyarakatnya melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) oleh negara dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki termasuk Gen Z.
Negara juga berupaya mencegah penumpukan kekayaan pada segelintir orang, melakukan pengawasan praktik ekonomi yang zalim serta menerapkan aturan Islam secara keseluruhan termasuk ekonomi. Celah yang menghasilkan budaya hedonis ditutup serapat-rapatnya oleh negara sehingga generasi terlindungi dari paparan konten yang merusak seperti sekularisme-kapitalisme beserta turunannya. Media dalam Islam pun akan diarahkan untuk edukasi dan peningkatan ketakwaan seluruh lapisan masyarakat termasuk Gen Z.
Islam juga berperan dalam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surah Adz Dzariyat ayat 56. Allah swt berfirman :” Dan tidaklah Kami diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.kepadaKu". Ayat ini memberikan perspektif penting yaitu tujuan hidup manusia tidak berhenti pada kesuksesan duniawi, tetapi memiliki dimensi penghambaan kepada Allah dalam semua lini kehidupan. Dengan begitu terbentuk akidah Islam yang kuat dan kokoh. Dengan akidah yang kokoh generasi akan memiliki visi yang jelas dalam hidupnya yakni sevagai pembangun peradaban Islam. Wallahua’lam.[]
*) Pemerhati Generasi


Post a Comment