Gen Z, Depresi Dan Visi Indonesia Emas 2045
Oleh: Miftahul Jannah S.Si*)
IndonesiaNeo, OPINI - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mentargetkan terwujudnya Indonesia Emas tahun 2045, tepatnya pada peringatan 100 tahun atau satu abad kemerdekaan Republik Indonesia. Visi Indonesia Emas 2045 ini didorong karena adanya bonus demografi , dimana penduduk usia produktif sangat besar. Tulang punggung dari visi ini adalah kelompok demografi yang saat ini berusia muda, yakni didominasi Gen Z dan Gen Alpha. Merekalah yang diharapkan akan memimpin transformasi ekonomi dan sosial di tahun 2045.
Sayangnya target dan cita-cita Bappenas tidak sejalan dengan realitas kondisi kesehatan mental Gen Z saat ini. Bahkan 60% Gen Z cemas soal masa depannya (data.goodstats.id, 8/4/2026). Data dari berbagai lembaga kesehatan global juga menunjukkan lonjakan signifikan dalam gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi mayor di kalangan Gen Z dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama.
Lonjakan gangguan kecemasan dan depresi pada Gen Z dipicu oleh beberapa hal, diantaranya pengaruh hiper-konektivitas dan media sosial. Gen Z adalah generasi digital native, dimana banyak terpapar "highlight reel" kehidupan orang lain yang berdampak memicu perbandingan sosial tidak sehat, sehingga muncul rasa tidak cukup, FOMO, cyberbullying dan tekanan sosial lainnya. Selain itu, ketidakpastian ekonomi dan masa depan juga sangat mempengaruhi mental mereka. Bayang-bayang krisis keuangan, inflasi, ketatnya persaingan dunia kerja dan pendidikan memicu kecemasan semakin membesar. Sedihnya fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi menggejala di seluruh dunia. China (47, 8 juta kasus), India (41, 8 juta kasus), Amerika Serikat (20, 2 juta kasus) dan lain-lain (link.springer.com, 26/4/2023).
Kondisi krisis multidimensi dan tidak ideal ini mengakibatkan munculnya gelombang perlawanan dan penolakan (resistensi) pada Gen Z terhadap norma-norma yang ada. Mulai dari munculnya banyak tagar dan diskusi yang mengkritik isu sosial, tatanan politik hingga korupsi di pemerintahan. Selain itu perlawanan mereka terhadap dunia kerja dimana hustle culture atau budaya gila kerja untuk mencapai kesuksesan mereka dobrak dengan mengutamakan keseimbangan kerja-hidup (work-life balance). Resistensi Gen Z terhadap tatanan sosial dan krisis multidimensi yang terjadi sekarang bisa menjadi sesuatu yang positif jika potensi mereka sebagai pemuda diarahkan sesuai fitrah penciptaan. Gen Z sebagaimana generasi lainnya harus menyadari bahwa adanya krisis multidimensi adalah akibat penerapan sistem sekuler kapitalistik. Dimana negara mengesampingkan nilai-nilai agama dalam membuat aturannya serta hanya berorientasi kepada kemanfaatan materi semata.
Dalam sistem ini Gen Z dilemahkan potensinya, bukannya dirangkul dan dikuatkan malah distigma negatif oleh generasi sebelumnya. Padahal mereka lupa kondisi Gen Z hari ini adalah hasil bentukan sistem yang ada. Faktanya sistem sekuler kapitalistik inilah yang membentuk kondisi Gen Z ataupun Gen Alpha dan seterusnya. Jika terus menggunakan sistem ini maka isu mengenai kesehatan mental bukannya berkurang, tapi malah semakin membesar. Sisi positifnya kondisi kecemasan, depresi dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan serta kebangkitan menuju kondisi lebih baik dan ideal. Mereka mulai sadar bahwa kondisi kecemasan hari ini adalah bentukan sistem yang berlaku.
Sudah banyak sekali bukti kerusakan dan kesengsaraan yang muncul akibat penerapan sistem sekuler kapitalistik ini. Krisis multidimensi dan kerusakan mental generasi serta problem lainnya. Masih belum cukupkah itu semua membuat kita semua tersadar harus beralih ke sistem lainnya? Sampai kapan kita mempertahankan sistem yang rusak dan merusak ini? Negara Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim harusnya perlu melihat sistem IsIam. Sistem yang berasal dari wahyu Allah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sistem inilah yang telah terbukti selama lebih dari 1400 tahun memimpin dunia dengan menghasilkan generasi kuat, tangguh, berkepribadian IsIam serta cakap dalam berbagai bidang keilmuan.
Syariat IsIam inilah yang digunakan oleh Rasulullah untuk mendidik para sahabat. Sehingga menghasilkan sosok-sosok luar biasa seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. Dengan syariat IsIam yang sama pula menjadikan Andalusia di bawah kekhilafahan Abbasiyah menjadi mercusuar pendidikan bagi Eropa dan dunia. Negara IsIam hadir sebagai raa'in (pelayan) dan junnah (perisai) bagi rakyatnya. Negara yang berdasarkan syariat IsIam ini memastikan kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi serta menyediakan kebutuhan dasar kolektif seperti pendidikan, kesehatan serta keamanan secara gratis dan berkualitas bagi rakyatnya. Kondisi ideal sesuai aturan Allah inilah yang menjadikan munculnya generasi emas, generasi berkualitas, generasi yang kuat dan tangguh serta yang paling utama generasi yang berkepribadian IsIam.
Sayangnya, syari'at IsIam saat ini dikesampingkan, IsIam hanya boleh dipakai dalam urusan ibadah dan pernikahan sementara dalam urusan kebijakan publik IsIam dipinggirkan, begitulah tabiat sekulerisme. Aturan tentang kebijakan publik diserahkan kepada manusia, karena mereka menganggap agama jika mengatur kehidupan akan menimbulkan kekacauan. Mereka menganggap kecerdasan manusia lebih cocok sebagai penentu kebijakan. Parahnya kebijakan yang ada hanya berorientasi kepada kemanfaatan dan keuntungan materi semata terutama bagi mereka yang bermodal, yang bisa memesan aturan (kapitalistik).
Oleh karena itu, sudah saatnya kaum Muslim terutama Gen Z menyadari betul bahwa IsIam tidak boleh hanya digunakan pada ruang spiritual semata tapi harus menjadikan kesempurnaan dan kelengkapan IsIam sebagi solusi atas berbagai problem kehidupan. Inilah IsIam mabda' atau IsIam ideologis. Mabda' IsIam harus diemban oleh seluruh umat IsIam di level individu, masyarakat dan negara. Dengan IsIam ideologis inilah maka harapan terwujudnya generasi emas 2045 bisa terealisasi bukan sekedar menjadi angan-angan semata. Wallahu a'lam.[]
*) Aktivis Muslimah


Post a Comment