Krisis Murid Baru SD Negeri, Orang Tua Pilih Swasta
Oleh: Solehah Ummu Syakila*)
IndonesiaNeo, OPINI - Fenomena sepinya murid baru di sejumlah sekolah dasar (SD) negeri bukan lagi isu yang bisa dianggap sepele. Di berbagai daerah di Indonesia, beberapa SD negeri bahkan tidak mampu memenuhi kuota peserta didik baru (www.cnnindonesia.com, 15/07/2026).
Di sisi lain, banyak sekolah swasta, khususnya yang berbasis Islam, justru mengalami peningkatan jumlah pendaftar. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan.
Salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut adalah meningkatnya kesadaran orang tua bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Di tengah maraknya kasus perundungan (bullying), kekerasan antarpelajar, penyalahgunaan media sosial, pornografi, narkoba, hingga menurunnya sikap hormat kepada guru dan orang tua, banyak keluarga merasa pembinaan karakter dan agama harus menjadi prioritas utama. Berbagai laporan dari lembaga pemerintah dan pemberitaan nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa persoalan karakter peserta didik menjadi tantangan nyata yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia.
Dari sudut pandang orang tua, sekolah swasta berbasis agama dinilai menawarkan lingkungan yang lebih kondusif. Program seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, pembiasaan adab, tahfiz, serta pendampingan karakter dianggap mampu memperkuat benteng moral anak sejak usia dini. Walaupun tidak semua sekolah swasta memiliki kualitas yang sama, persepsi inilah yang membuat banyak orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar.
Namun, menyimpulkan bahwa seluruh sekolah negeri gagal membentuk karakter juga tidak tepat. Banyak sekolah negeri yang berhasil melahirkan peserta didik berprestasi dan berakhlak baik. Persoalan utamanya bukan terletak pada status negeri atau swasta, melainkan pada kualitas budaya sekolah, kepemimpinan, keterlibatan guru, serta sinergi dengan keluarga.
Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih luas daripada sekadar mencetak anak yang cerdas. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini menegaskan bahwa orang tua memikul tanggung jawab utama terhadap pendidikan anak, termasuk memilih lingkungan pendidikan yang mendukung keimanan dan akhlaknya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan anak-anaknya. Karena itu, memilih sekolah yang mampu menanamkan nilai agama merupakan ikhtiar yang dibenarkan dalam Islam.
Meski demikian, Islam juga mengajarkan bahwa pembentukan akhlak tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Madrasah pertama bagi seorang anak adalah keluarga. Sekolah hanya menjadi mitra dalam proses pendidikan. Jika pendidikan agama di rumah lemah, maka sekolah—sebaik apa pun—akan menghadapi keterbatasan dalam membentuk karakter anak.
Karena itu, krisis murid di sejumlah SD negeri hendaknya menjadi momentum evaluasi bersama. Pemerintah perlu memperkuat pendidikan karakter dan pendidikan agama di sekolah negeri tanpa mengurangi semangat toleransi dan kebinekaan. Orang tua juga harus aktif mendampingi pendidikan anak di rumah. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan kunci lahirnya generasi yang cerdas, berintegritas, dan berakhlak mulia.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai ujian, tetapi dari lahirnya generasi yang memiliki ilmu, iman, dan akhlak. Itulah tujuan pendidikan yang sejalan dengan cita-cita bangsa sekaligus nilai-nilai Islam.[]
*) Pegiat literasi


Post a Comment